Januari 20, 2010

Lagu Lama

Jika kau hebat, hilangkan saja si miskin yg tak tak jera

atau komplek rusun yang bikin kumuh sudut  kota

sebab hanya habiskan uang negara

Tapi kau bukan apa-apa

lapangan kerja saja tak bisa kau cipta

apalagi rumah sewa yang berharga murah

koruptormu semakin merajalela, bahkan bisa melanglang buana

masuk penjara saja masih bisa berleha-leha

sedang kau tak bisa berkata apa-apa

Kau hanya bisa nyanyikan lagu lama saat musim pilkada tiba

“pilih aku yang terpercaya, untuk negeri yang makin tak berdaya”

ah, ternyata kau bukan siapa-siapa

Kau juga tak punya apa-apa

untuk negeri yang katanya sangat kau cinta.

Desember 30, 2009

“Gurita Cikeas” dicekal juga?

Banyak pihak  meminta buku Penulis George Junus Aditjondro, Membongkar Gurita Cekas; dibalik kasus Bank Century ini untuk tidak diedarkan. Ternyata tidaklah  demikian yang terjadi di masayarakat, semakin antusias masayarakat untuk membeli dan membaca buku ini. Ini hal yang menarik tentunya, ada sebuah gejala sosial yang sedang terjadi di tengah masayarat. Bahwasanya  masyarakat saat ini sedang sangat membutuhkan informasi sebanyak mungkin tentang apa yang terjadi di negara merah putih dengan segala permasalahan hukum, kekuasaan dan ketidakadilan. Masyarakat mencari informasi di sisi lain untuk memenuhi kebutuhan akan keingintahuaannya atau  mencari “second opinion” tentang suatu hal untuk kemudian dikomparasikan dan ditimbang sebelum mengarah pada sebuah kesimpulan atau penilaian.

Hanya saja kondisi akan menjadi buruk jika kemudian data-data yang disajikan menjadi bola panas yang siap mengenai siapa saja tanpa bisa dihentikan dan dikendalikan apalagi dibuktikan secara hukum.  kerusuhan politik dan kerusuhan opini akan semakin liar dan menimbulkan konflik yang semrawut. Ditambah pula jika pihak yang menuntut tidak memberikan reaksi cerdas terhadap terbitnya buku ini. Konon katanya, negara ini sengaja dibentuk sebagai negara hukum. Artinya jika memang buku ini kemudian harus dihentikan pereadarannya itu harus sesuai dengan proses atau prosedur yang berlaku. Jika melihat kasus 5 buku yang baru-baru ini dilarang oleh kejaksaan agung, semuanya sudah melalui proses oleh tim penyeleksi (clearing house) sejak Mei 2009. Buku-buku tersebut dilarang karena melanggar ketertiban umum. Substansi buku dinilai tidak sesuai dengan aturan. Namun, ketertiban umum yang mana yang dilanggar buku-buku itu,  tidak menjelaskan. (Kompas.com).

Jika kemudian buku ini mendadak dicekal juga, maka bisa saja semakin menimbulkan kecurigaan dan ketidakpercayan masyarakat terhadap pemerintahan SBY, bahwa ada kepentingan terselubung di balik pemberhentian peredaran buku Membongkar Gurita Cikeas tentu saja untuk penyelematan kekuasaan. Saya yakin SBY tak mau ini.

Desember 30, 2009

Membongkar Gurita Cikeas.

Kancah dunia perpolitikan kembali dihebohkan dengan teritnya buku “Membongkar Gurita Cikeas; di balik kasus century” yang ditulis oleh George Junus Aditjondro, Guru Besar Sosiology Korupsi New Castle University Australia yang pernah ‘menelanjangi’ KKN antara Presiden Suharto dengan Habibie lewat buku “Dari Soeharto ke Habibie : guru kencing berdiri, murid kencing berlari : kedua puncak korupsi, kolusi, dan nepotisme rezim Orde Baru” (Pijar Indonesia, 1998), dan “Korupsi Kepresidenan Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga: Istana, Tangsi, dan Partai Penguasa” (Mei, 2006). (blog pancallok).

tentu saja kontroversi dari pihak-pihak terutama yang telibat seperti yang tertulis dalam buku ini membuat buku menjadi buah bibir. di beberapa diskusi di media George mengatakan akan melakukan revisi terhadap data yang terulis jika terbukti benar terdapat sebuah kekeliruan, dan revisi tersebut akan di tulis di edisi revisi, buku kedua.

saya belum baca langsung daru buku brwarna putih ini, tapi sedikit info dari tetangga cukup untuk sementara ini

———————————————————-

Sekilas Seputar Buku Membongkar Gurita Ciekas;

di balik Kasus Bank Century

Sumber : Blog Suara Mustika


“Apakah penyertaan modal sementara yang berjumlah Rp 6,7 triliun itu ada yang bocor atau tidak sesuai dengan peruntukannya? Bahkan berkembang pula desas-desus,rumor, atau tegasnya fitnah, yang mengatakan bahwa sebagian dana itu dirancang untuk dialirkan ke dana kampanye Partai Demokrat dan Capres SBY; fitnah yang sungguh kejam dan sangat menyakitkan….

Sejauh mana para pengelola Bank Century yang melakukan tindakan pidana diproses secara hukum, termasuk bagaimana akhirnya dana penyertaan modal sementara itu dapat kembali ke negara?”

Begitulah sekelumit pertanyaan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidatonya hari Senin malam, 23 November 2009, menanggapi rekomendasi Tim 8 yang telah dibentuk oleh Presiden sendiri, untuk mengatasi krisis kepercayaan yang meledak di tanah air, setelah dua orang pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) – Bibit S Ryanto dan Chandra M Hamzah – ditetapkan sebagai tersangka kasus pencekalan dan penyalahgunaan wewenang, hari Selasa, 15 September, dan ditahan oleh Mabes Polri, hari Kamis, 29 Oktober 2009.

Barangkali, tanpa disadari oleh SBY sendiri, pernyataannya yang begitu defensif dalam menangkal adanya kaitan antara konflik KPK versus Polri dengan skandal Bank Century, bagaikan membuka kotak Pandora yang sebelumnya agak tertutup oleh drama yang dalam bahasa awam menjadi populer dengan julukan drama cicak melawan buaya.

Memang, drama itu, yang begitu menyedot perhatian publik kepada tokoh Anggodo Widjojo, yang dijuluki “calon Kapolri” atau “Kapolri baru”, cukup sukses mengalihkan perhatian publik dari skandal Bank Century, bank gagal yang mendapat suntikan dana sebesar Rp 6,7 trilyun dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), jauh melebihi Rp 1,3 trilyun yang disetujui DPR‐RI.

Selain merupakan tabir asap alias pengalih isu, penahanan Bibit dan Chandra oleh Mabes Polri dapat ditafsirkan sebagai usaha mencegah KPK membongkar skandal Bank Century itu, bekerjasama dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Soalnya, investigasi kasus Bank Century itu sudah didorong KPK (Batam Pos, 31 Agust 2009). Sedangkan BPK juga sedang meneliti pengikutsertaan dana publik di bank itu, atas permintaan DPR‐RI pra‐Pemilu 2009.

Dari berbagai pemberitaan di media massa dan internet, nama dua orang nasabah terbesar Bank Century telah muncul ke permukaan, yakni Hartati Mudaya, pemimpin kelompok CCM (Central Cipta Mudaya) dan Boedi Sampoerna, salah seorang penerus keluarga Sampoerna, yang menyimpan trilyunan rupiah di bank itu sejak 1998.

Sebelum Bank Century diambilalih oleh LPS, Boedi Sampoerna, seorang cucu pendiri pabrik rokok PT HM Sampoerna, Liem Seng Thee, masih memiliki simpanan sebesar Rp Rp 1.895 milyar di bulan November 2008, sedangkan simpanan Hartati Murdaya sekitar Rp 321 milyar.

Keduanya sama‐sama penyumbang logistik SBY dalam Pemilu lalu. Beberapa depositan kelas kakap lainnya adalah PTPN Jambi, Jamsostek, dan PT Sinar Mas. Boedi Sampoerna sendiri, masih sempat menyelamatkan sebagian depositonya senilai US$ 18 juta, berkat bantuan surat‐surat rekomendasi Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri waktu itu, Komjen (Pol) Susno Duadji, tanggal 7 dan 17 April 2009 (Rusly 2009: Haque, 2009; Inilah.com, 25 Febr 2009; Antara News, 10 Ag. 2009; Vivanews.com, 14 Sept. 2009; Forum Keadilan, 29 Nov. 2009: 14).

BANTUAN GRUP SAMPOERNA UNTUK HARIAN JURNAS

Apa relevansi informasi ini dengan keluarga Cikeas?

Boedi Sampoerna ditengarai menjadi “salah seorang penyokong SBY, termasuk dengan menerbitkan sebuah koran” (Rusly 2009: 48).

Ada juga yang mengatakan” Sampoerna sejak beberapa tahun lalu mendanai penerbitan salah satu koran nasional (Jurnas/Jurnal Nasional) yang menjadi corong politik Partai SBY” (Haque 2009).

Baca terus →

Desember 18, 2009

Undangan Pernikahanku

Biar semua pada siap-siap jadi saya kasih kabar jauh-jauh hari

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan memohon Rahmat Allah SWT untuk keberkahan disetiap prosesnya, kami bermaksud melaksanakan sunnah Rasul dengan melangsungkan pernikahan:

Aprina Santeka dengan Muhith Harahap

yang insyaallah akan diselenggarakan pada :
Akad : Tanggal 29 Januari 2010 pukul 14.00 WIB
Resepsi : Tanggal 30-31 Januari pukul 09.00-12.00 WIB

Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami jika bapak/ibu/saudara/saudari dapat hadir dan memberikan doa untuk keberkahan pernikahan kami.

Wassalamualaikum Wr. Wb

Catatan : Ini adalah undangan resmi untuk semua kerabat, sahabat dan handai tolan.

November 24, 2009

Sekedarnya SAja

Temen-temenku bilang sekarang aku kena virus romantis karena kegandrungan nulis puisi…aku berpikir..masa iya sih kl orang yg nulis puisi selalu dalam kriteria romantis? tapi jika begitu tak apalah aku di sebut romantis tapi bukan romantias melankolis….he..he. Beberapa tulisan untuk blog sudah kusiapkan hanya saja belum diberi sentuhan terkahir alias finishing touch.

Akhir-akhir ini aku kegandrungan nulis puisi,banyak mood buat bikin puisi sederhana. sepertinya karena beberapa bulan terakhir sosok WS rendra dan taufik ismail benar-benar lagi menjelma dalam pikirian, terinspirasi.

termasuk beberapa hari lalu kubuat puisi sederhana untuk seorang perempuan berhati mulia :

Aku lari dari kerinduan seperti ini

Bergelora, hebat membuncah.

Sekedar tautan doa lirih yang menenangkan.

Pada  Ibu , jauh tak terpandang. Tak tersentuh.

November 8, 2009

Warna Rasa

biar kulukis sendiri warna rasaku

tak mudah..tapi bisa

Oktober 23, 2009

Jakarta Kota Terjorok Ketiga di Dunia

72500_sepeda_motor_300_225Badan Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Jakarta sebagai kota dengan tingkat polusi tertinggi ketiga di dunia, setelah Meksiko dan Thailand. Sumber polusi terbesar dihasilkan asap kendaraan bermotor yang mencapai 70 persen.

Kontaminasi gas buang kendaraan bermotor itu tak hanya membuat Jakarta menyandang kota terjorok. Kondisi itu juga berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan bagi warganya. Dan, mereka yang beraktivitas di dekat sumber polusi merupakan kelompok yang paling rentan menerima dampaknya.

Laporan World Health Organization Negara-negara Eropa WHO-Europe, 2004) menyebut, adanya hubungan antara partikel debu di udara dengan berbagai macam penyakit saluran pernapasan.

Pencemaran udara dapat meningkatkan jumlah kematian akibat penyakit paru-paru dan jantung. Bahkan, partikel debu memberi kontribusi dalam penurunan umur atau harapan hidup satu tahun atau lebih bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar Eropa.

Laporan itu dipublikasikan dalam buku ‘Peningkatan Kualitas Udara Perkotaan: Strategi dan Rencana Aksi Lokal‘ yang diterbitkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tahun 2006.

WHO menetapkan beberapa jenis polutan yang berbahaya bagi kesehatan manusia, hewan, serta mudah merusak harta benda. Polutan itu merupakan partikular yang mengandung partikel (asap dan jelaga), hidrokarbon, sulfur dioksida, dan nitrogen oksida. Kesemuanya diemisikan oleh kendaraan bermotor.

• VIVAnews

bagi para pengendara motor jangan pernah abaikan masker.

September 17, 2009

Happy Idul Fitri

idul fitri

Selamat Idul Fitri kawan-kawan semua,

mohon maaf jika ada hal  yg kurang berkenan dalam dunia blog kita.

semoga jalinan silaturahmi tetap bisa terjaga dan tentunya juga semoga kita tetap bisa menjaga semangat ramadhan di 11 bulan mendatang.

September 11, 2009

MUDIK yuuuk

Mudik ceria di setiap lebaran pasti jadi moment yg ditunggu-tungu oleh kebanyakan orang. Kembali ke kampung halaman tempat dibesarkan, menghabiskan rindu dengan orang tua dan keluarga tercinta meski tak lama. Tentu saja, oleh-oleh dari pulau seberang tak lupa dibawa sekedar periang hati bagi orang-orang yang lama ditinggal selama ini.

Itu pun kurasakan setiap menjelang lebaran. Biasannya ramadhan adalah waktu puncak kerinduan pada kampung halaman tapi aroma mudik yg semakin dekat membuat tetap semangat belajar dan bekerja.nostalgia ke tempat-tempat favorit jaman bahela pasti tak terlewatkan. Nah, bagi orang-orang Manna,Bengkulu Selatan  pasti tak pernah lupa wisata utama  kita :

ufuk senja

Pantai Pasar Bawah

anak muara

Anak Muara Kedurang

Ingat pesan lama : Amau balik kitau betunggal, amaun jauh kitau seghinduan.

September 6, 2009

Gerhana Derma (Celathu Butet)

Dari dulu aku sangat suka kolom celathu butet (suaramerdeka.com). tulisan yg sangat menggelitik, kritis tanpa dikte tapi mengena.

MASIH ingat gerhana matahari total (GMT) yang terjadi tahun 80-an di Indonesia?
Untuk mereka yang saat itu belum lahir, perlu dikisahkan; peristiwa alam tertutupinya matahari oleh bulan sehingga menyerupai cincin berkilauan itu, diperlakukan dengan sangat heboh.

Pemerintah Orde Baru bahkan turun tangan, ikut mengatur bagaimana rakyat merespons  gejala alam itu.  GMT yang semestinya biasa, dibayangkan menjadi luar biasa dan menakutkan. Rakyat ditakut-takuti. Diimbau supaya tidak menyaksikan gerhana.

’’Jika melihat langsung mata bisa buta,’’ begitu pemerintah kasih peringatan. Malah melalui TVRI, satu-satunya siaran resmi saat itu, pemerintah berkampanye dengan menggambarkan cara dan tindakan ’’terbaik’’ saat GMT tiba, yaitu sembunyi di kolong tempat tidur. Walah walah…

’’Hua ha ha, lucu sekali ya. Hanya untuk melihat gejala alam saja, pemerintah ikutan mengatur. Kok gitu sih?’’ tanya Jeng Genit yang ketika GMT statusnya masih umpluk, alias belum lahir.

’’Dan sialnya, banyak orang yang patuh. Tidak berani melihat cincin raksasa mengkilat di angkasa. Sayang sekali, padahal pada detik GMT itu pemandangannya indah banget. Hari yang semula terang benderang, lalu meredup perlahan-lahan, gelap total kayak malam hari, dan di langit terlihat matahari tertutupi rembulan.

Yang terlihat kemudian adalah bulatan kayak cincin menyala di tepiannya. Wuaah..wah, wah, jan elok tenan,’’ kenang Mas Celathu dengan agak mendramatisasi, sehingga Jeng Genit semakin gemas karena selama hidupnya dia tak akan sempat menyaksikan keajaiban alam yang berlangsung seratus tahun sekali itu.

’’Wuiihhh, bagus sekali ya? Tapi kenapa pemerintah melarang rakyat melihat keindahan dan keajaiban itu?’’

’’Soalnya, dulu itu pemerintah hobinya bikin larangan. Ibaratnya, sehari saja tidak bikin larangan, pejabatnya langsung pegel linu dan gatal-gatal.. he he he..’’
’’Lha kok Bapak bisa melihat gerhana itu. Hayooo, pasti bandel ya? Nggak patuh sama pemerintah. Bukannya rakyat itu wajib patuh kepada pemerintahnya?’’

Baca terus →