Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘OPINI’ Category

Status sebagai aktivis bagi sebagian orang bisa menjadi sesuatu yg prestisius serta membanggakan apalagi aktivis tersebut menorehkan banyak prestasi yang bisa semakin mengharumkan namanya.

Karenanya tidak sedikit aktivis yang terus melanjutkan karir aktivisnya meski sudah tidak lagi menjadi mahasiswa. Memilih wadah-wadah ekstraparlementer yang sesuai dengan minat dan spesialisasi.

Tentu saja  para pegiat ini bukan berasal dari kaum adam semata tapi banyak juga para aktivis yang bergender perempuan. Para perempuan ini bahkan bisa menjadi pucuk-pucuk pimpinan dilembaga masing-masing bahkan eksis di luar sana.

Tapi, bagi para aktivis perempuan mereka tidak hanya  bergerak stagnan pada satu level “single” seperti ketika mereka masih menjadi mahasiswa. Bahwa suatu masa mereka akan berubah menjadi ‘double” dan juga berakitvitas sebagai ibu rumah tangga.

Tapi permasalahan yang ternyata muncul dikalangan aktivis yang berhenti aktif dan menjadi ibu rumah tangga adalah mereka malu ketika status mereka berubah total dari aktivis menjadi ibu rumah tangga murni. Ada pertentangan psikologi ketika banyak saudara dan  sahabat yang sedikit sinis ketika mendengar jawaban apa pekerjaan setelah menikah. Kondisi inilah yang kerap banyak membuat para aktivis perempuan akhirnya tetap memilih bekerja karena malu. Malu karena dulu dia adalah aktivis terkenal tapi sekarang hanya menjadi biu rumah tangga. Seperti ada stiga yang tertanam entah memang tercipta di masayarakat luas atau hanya dikalangan aktivis saja bahwa status “ibu rumah tangga” adalah status yang tidak elit dan tidak bergengsi.

(lebih…)

Read Full Post »

Kekerasan Ciptaan Media

Denis McQuail dalam bukunya McQuail’s Mas Communication Theory, mengatakan bahwa media adalah jendela yang memungkinkan kita untuk melihat fenomena yang terjadi melebihi lingkungan dekat kita. Media mampu menyajikan berbagai macam peristiwa kepada audiensnya. Secara gamblang seseorang bisa mengakses informasi dan berbagai macam peristiwa yang up to date dari berbagai penjuru dunia, melewati dimensi ruang dan waktu

Jika kita memperhatikan isi media yang ditampilkan ke publik, tidak sedikit tayangan-tayangan yang berbau “kekerasan” menjadi konsumsi khalayak. Tayangan yang berbau kekerasan saat ini bahkan menjadi tayangan yang mendominasi, mulai dari segmen orang dewasa sampai anak-anak. Sinetron-sinetron di televisi kerap mempertontonkan adegan perkelahian, tamparan dan cacian hinaan dalam setiap segmennya. Dalam film anak-anak pun juga tak luput dari adegan-adegan tersebut.

Menjadi permasalahan adalah ketika tayangan-tayangan tersebut dianggap realita sosial di tengah masyarakat dan menjadikan kekerasan adalah sesuatu yang lumrah dan biasa dilakukan.  Di Bandung, seorang anak SD kelas II meninggal dunia setelah bermain dengan teman sekelasnya. Di Balikpapan seorang anak kelas II SD mengalami patah tangan. Dan masih banyak lagi kasus serupa di daerah lain. Setelah di selidiki ternyata sang bocah senang menonton tayangan Smackdown di televisi.

(lebih…)

Read Full Post »

Imunitas Diri Sang Manusia

Permasalahan yang muncul  akan terus berkembang seiring berjalannya proses hidup dan kehidupan ini. Ia akan datang dan pergi menurut reaksi sang manusia terhadap sebuah peristiwa. Ia juga bisa datang dengan wujud yang sama dan juga bentuk yang berbeda. Banyak orang bijak yang berpetuah bahwa masalah itu datang untuk menyelesaikan kekurangan diri dan kemudian menyempurnakan kepribadian jika sang manusia bisa menyelesaikan dan memetik buah hikmah kehidupan yang kelak akan mematangkan kepribadian. Sebaliknya, ia akan terus ada bagaikan bayang-bayang yang sulit untuk pergi jika tak mampu diselesaikan. Artinya, sang manusia dituntut untuk bisa dan mampu mengatasi setiap kesulitan-kesulitan yang hadir di hadapan, lalu menjadikannya pelajaran yang akan mereparasi jiwa untuk lebih baik.

(lebih…)

Read Full Post »

“Gurita Cikeas” dicekal juga?

Banyak pihak  meminta buku Penulis George Junus Aditjondro, Membongkar Gurita Cekas; dibalik kasus Bank Century ini untuk tidak diedarkan. Ternyata tidaklah  demikian yang terjadi di masayarakat, semakin antusias masayarakat untuk membeli dan membaca buku ini. Ini hal yang menarik tentunya, ada sebuah gejala sosial yang sedang terjadi di tengah masayarat. Bahwasanya  masyarakat saat ini sedang sangat membutuhkan informasi sebanyak mungkin tentang apa yang terjadi di negara merah putih dengan segala permasalahan hukum, kekuasaan dan ketidakadilan. Masyarakat mencari informasi di sisi lain untuk memenuhi kebutuhan akan keingintahuaannya atau  mencari “second opinion” tentang suatu hal untuk kemudian dikomparasikan dan ditimbang sebelum mengarah pada sebuah kesimpulan atau penilaian.

Hanya saja kondisi akan menjadi buruk jika kemudian data-data yang disajikan menjadi bola panas yang siap mengenai siapa saja tanpa bisa dihentikan dan dikendalikan apalagi dibuktikan secara hukum.  kerusuhan politik dan kerusuhan opini akan semakin liar dan menimbulkan konflik yang semrawut. Ditambah pula jika pihak yang menuntut tidak memberikan reaksi cerdas terhadap terbitnya buku ini. Konon katanya, negara ini sengaja dibentuk sebagai negara hukum. Artinya jika memang buku ini kemudian harus dihentikan pereadarannya itu harus sesuai dengan proses atau prosedur yang berlaku. Jika melihat kasus 5 buku yang baru-baru ini dilarang oleh kejaksaan agung, semuanya sudah melalui proses oleh tim penyeleksi (clearing house) sejak Mei 2009. Buku-buku tersebut dilarang karena melanggar ketertiban umum. Substansi buku dinilai tidak sesuai dengan aturan. Namun, ketertiban umum yang mana yang dilanggar buku-buku itu,  tidak menjelaskan. (Kompas.com).

Jika kemudian buku ini mendadak dicekal juga, maka bisa saja semakin menimbulkan kecurigaan dan ketidakpercayan masyarakat terhadap pemerintahan SBY, bahwa ada kepentingan terselubung di balik pemberhentian peredaran buku Membongkar Gurita Cikeas tentu saja untuk penyelematan kekuasaan. Saya yakin SBY tak mau ini.

Read Full Post »

Gerhana Derma (Celathu Butet)

Dari dulu aku sangat suka kolom celathu butet (suaramerdeka.com). tulisan yg sangat menggelitik, kritis tanpa dikte tapi mengena.

MASIH ingat gerhana matahari total (GMT) yang terjadi tahun 80-an di Indonesia?
Untuk mereka yang saat itu belum lahir, perlu dikisahkan; peristiwa alam tertutupinya matahari oleh bulan sehingga menyerupai cincin berkilauan itu, diperlakukan dengan sangat heboh.

Pemerintah Orde Baru bahkan turun tangan, ikut mengatur bagaimana rakyat merespons  gejala alam itu.  GMT yang semestinya biasa, dibayangkan menjadi luar biasa dan menakutkan. Rakyat ditakut-takuti. Diimbau supaya tidak menyaksikan gerhana.

’’Jika melihat langsung mata bisa buta,’’ begitu pemerintah kasih peringatan. Malah melalui TVRI, satu-satunya siaran resmi saat itu, pemerintah berkampanye dengan menggambarkan cara dan tindakan ’’terbaik’’ saat GMT tiba, yaitu sembunyi di kolong tempat tidur. Walah walah…

’’Hua ha ha, lucu sekali ya. Hanya untuk melihat gejala alam saja, pemerintah ikutan mengatur. Kok gitu sih?’’ tanya Jeng Genit yang ketika GMT statusnya masih umpluk, alias belum lahir.

’’Dan sialnya, banyak orang yang patuh. Tidak berani melihat cincin raksasa mengkilat di angkasa. Sayang sekali, padahal pada detik GMT itu pemandangannya indah banget. Hari yang semula terang benderang, lalu meredup perlahan-lahan, gelap total kayak malam hari, dan di langit terlihat matahari tertutupi rembulan.

Yang terlihat kemudian adalah bulatan kayak cincin menyala di tepiannya. Wuaah..wah, wah, jan elok tenan,’’ kenang Mas Celathu dengan agak mendramatisasi, sehingga Jeng Genit semakin gemas karena selama hidupnya dia tak akan sempat menyaksikan keajaiban alam yang berlangsung seratus tahun sekali itu.

’’Wuiihhh, bagus sekali ya? Tapi kenapa pemerintah melarang rakyat melihat keindahan dan keajaiban itu?’’

’’Soalnya, dulu itu pemerintah hobinya bikin larangan. Ibaratnya, sehari saja tidak bikin larangan, pejabatnya langsung pegel linu dan gatal-gatal.. he he he..’’
’’Lha kok Bapak bisa melihat gerhana itu. Hayooo, pasti bandel ya? Nggak patuh sama pemerintah. Bukannya rakyat itu wajib patuh kepada pemerintahnya?’’

(lebih…)

Read Full Post »

Kelelahan Pemilu

blogTanggal 8 Juli 2009 kembali rumah kita “indonesia” ini akan menggelar hajatan besar yang diprediksi akan menghasiljan dana yang tidaklah sedkiti. Pemilu legislatif 9 April lalu konon telah mengahibiskan dana negara Rp 47 milyar. Belum dana yang harus dikeluarkan oleh masing-masing caleg secara personal mengingat aturan baru KPU dimana perolehan kursi legislatif ditentuan oleh suara perseoarangan. Bagi yang terobsesi menjadi caleg tentu tak segan-segan mengeluarkan jutaan bahkan milyaran rupiah untuk sebuah kursi di parlemen.

Pengorbanan yang tidak sedikit ini bisa berpeluang menimbulkan keguncangan bagi para caleg yang gagal , bebrapa pemerintah daerah pun telah menyiapkan antisipasi tingkat stress tinggi dengan menyediakan rumah sakit “istimewa” bagi mantan calon anggota legislatif, yang sebenarnya sangat mengenaskan.

 

Sambung menyambung proses pemilu tahun ini bisa berdampak pada kelelahan masyarakat untuk mengikuti pesta demokrasi ini. Bagaimana tidak, masyarakat dicekoki dengan berbagai macam informasi dari semua partai dan caleg peserta pemilu yang sangat banyak. Kondisi ini tentu menimbulkan kebingungan-kebingungan di kalangan pemilih, belum KPU juga turut mensosialisaikan aturam pemilu yang sama sekali berubah.

 

Kebingungan masyarakat jika tidak ditangani dengan baik bisa berdampak pada proses pemilihan presiden mendatang. Angka golput yang sangat tingii menjadi evalausi bagi pemerintah, partai dan pihak terkait bahwa kualitas pemilu kita masih sangat rendah.

Banyak asumsi penyebab angka golput tinggi, tapi yang paling penting evaluasi bagi pihak terkait dapat menemukan solusi untuk menekan jumlah golput baik secara peraturan, teknis pemilihan maupun bagi partai dan caleg yang akan berkmapanye. Metode-metode kampanye dan sosialisasi  oleh partai harus efektif dan berkesinmabungan bukan sekedar menjelang pemilu dan mengandalkan politik iklan, efeknya kemudian mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap partai dan meraih suara secara elegan tanpa kecurangan-kecurangan dan money politic yang selama ini  masih menjadi tradisi buruk.

Bagi KPU, sosialisasi aturan pemilu harus bisa dilakukans ejak dini, bukankah banyak yang bisa di gandeng untuk kerjasama? Bukannya masih ada lembaga lain yang peduli terhadap kecerdasan politik masyarakat? dana tak mesti dijadikan alasan jika bisa mengoptimalkan semua pihak, banyak jalan menuju Roma.

 

Pemilu yang bersih, jujur, aman dan damai tak akan membuat kita lelah untuk  terus berusaha demi perbaikan Indonesia

 

Read Full Post »

REFLEKSI AKHIR TAHUN

waktuKualitas hidup seseoarang dapat dilihat dari bagaimana ia menyikapi dan memanfaatkan waktu. Setiap orang diberikan jatah yang sama yaitu 24 jam kali 7 hari kali kali 12 bulan. Dalam waktu yang sama itu kemudian kita melakukan berbagai macam hal di atas muka bumi ini. Dengan waktu yang sama tetapi dengan proses yang berbeda ternyata memberikan hasil yang berbeda pula. Dalam waktu 24 jam itu seorang presiden bisa menuntaskan tugas kenegaraannya, seorang direktur perusahaan bisa menyelesaikan pekerjaan perusahaan, akan tetapi di satu sisi masih banyak di antara kita yang hanya berdiam diri bahkan tak mampu menyelesaikan masalah pribadinya.

 

Ada sebuah kata bijak yang mengatakan “ orang yang sukses adalah orang yang mampu memanfaatkan waktunya dengan baik”. Banyak di antara kita yang masih mengabaikan satu menit padahal banyak hal yang dapat terjadi hanya dalam satu menit itu. Joe Boot di Ravi Zacharias International Ministries, misalnya mencatat bahwa setiap detik 4,5 mobil dibuat di dunia, ada 2.000 meter persegi hutan yang lenyap, ada 3 bayi yang dilahirkan, ada 1,5 orang yang meninggal. Dalam satu detik juga ada 2,4 juta sel darah merah yang diproduksi di sumsum tulang dan dalam satu detik, bumi yang kita diami ini melesat sejauh 30 Km dalam revolusinya mengeliling matahari.

Sungguh banyak hal yang terjadi dalam satu detik tanpa kita sadari. Contoh lain bagiamna sebuah kesuksesan berawal dari penghargaan terhadap waktu ada dalam  film Pursuit  of happiness, bagimana tokoh utama yaitu Will Smith menahan untuk tidak ke kamar kecil Karena jika ke kamar kecil ia akan kehilangan waktu 10 menit dan itu berarti the menutup peluang untuk di angkat menjadi karyawan perusahaan. Menurut penelitian, semakin kita berhitung dengan waktu maka semakin bernilai waktu kita.

Penelitian juga menghasilkan, orang yang tidak punya jamtanpa menyinggung yang tidak punya jam, dia sering menyia-nyiakan waktunya, karena untuk cari waktu saja dia telah kehilangan waktu, “jam berapa sekarang?” berapa detik mengucapkan kalimat tanya itu? Berapa detik menengok? Berapa detik pula si pemilik jam melihat jamnya dan menyampaikannya kepada si penanya yang tidak punya jam? Akumulasikan, itulah angka kehilangan waktu kita.

 

Dari fakta di atas maka di tahun baru islam 1430 H ini mari kita mencoba untuk merenung apa yang telah kita lakukan dan apa yang telah kita abaikan dan yang tak kalah penting bagaimana kita akan memanfaatkan waktu di tahun 1430 H ini.

Dari relung hati yang paling dalam pasti akan kita temukan sebuah harapan perubahan di tahun yang akan datang, perubahan yang membawa pada kebaikan bahkan kebahagiaan. Tapi tak mungkin perubahan menghasilkan sebuah perubahan jika tak ada komitmen dan kesungguhan untuk bisa menyikapi waktu dengan baik. Menjadikan waktu di setiap detiknya adalah kesempatan emas yang tak boleh dilewatkan untuk menghasilkan karya besar sebagaimana kisah Imam Hambali.

Beliau berkata “ Sungguh tak patut bagiku menyia-nyiakan waktu bagiku walaupun sesaat saja, sekalipun llidahku tak mampu lagi untuk menelaah  dan berdebat, mataku tak kuat lagi membaca maka akan aku upayakan dengan mengerahkan segala pikiran untuk berbuat sesuatu untuk mengisi waktu kosongku meskipun aku telah terlempar. Akupun takkan bergerak  dan berbuat sesuatu kecuali  apa yang terbetik dalam hati ini untuk menulis  dalam lembaran berharga. Sungguh sampai umurku telah mencapai 8 tahun, aku belum menemukan minatku terhadap suatu ilmu yang lebih dari apa yang aku dapatkan saat umurku mencapai 12 tahun.”

Dengan bekal minat dan modal semangat itu beliau telah membuahkan karya 800 jilid buku.

  

 

Semoga kitapun bisa merasakan semangat besar itu untuk perbaikan di tahun 1430 hijriah ini.

Read Full Post »

Older Posts »