Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2008

Tema “Perempuan” saat ini menjadi isu “trend” yang sedang mendunia. Perbicangan public di berbagai moment banyak membahas hak-hak perempuan, peran perempuan serta perlindungan bagi kaum perempuan salah satuya di bidang politik karena prototype yang masih kental bahwa perempuan hanya layak berada di wilayah domistik rumah tangga tak patut jika berkecimpung di dunia publik. Keadaan ini kmeudian menimbulkna bnayak kotraversi terutama di kalangan aktivis perempuan yang menginginkan hal lebih yang dianggap memang menjadi hak perempuan. Seiring berkembannya wacana dan eori feminisme, pejruangan kaum permpuan untuk dianggap sejajar dengan kaum laki-laki seakan mendapat angin segar yang membuat perjuangan para feminis ini berkembang pesat seperi jamur yang tumbuh di musim hujan.

Sampai saat ini keterwakilan perempuan di lembaga politik dianggap masih sangat lemah. Kemudian salah satu langkah yang dilakukan adalah perubahan regulasi dan aturan politik yang menjamin keterlibatan perempuan, yaitu menetapkan quota minimal bagi perempuan di lembaga politik. Di indonesia saja sudah ditetapka quota perempuan di lambaga politik sebesar 30 % meski sampai saat ini quota tersebut belumlah dilaksanakan sepenuhnya oleh partai politik.

Selain keterwakilan perempuan di parlemen yang juga menjadi sorotan publik saat ini adalah keterlibatan perempuan dalam Pilkada. Sejauh ini sampai desember 2006 menurut survai LSI hanya 69 perempuan yang maju di gelanggang pilkada. Isu gender dalam dunia politik saat ini semakin menguatm bahkan sentimen gender kerap dijadikan isu politik yang terus di olah oleh partai politik untuk menarik simpati pemilih perempuan.

Benarkah jenis kelamin mempengaruhi pemenangan pemilu?

Jika kita amati model Pilkada di beberapa derah politisasi isu gender untuk menarik simpul suara perempuan sangat santer. Di Jawa tengah dengan majunya Rustriningsih berpasangan dengan Bibit Waluyo jelas dinyatakan untuk menarik suara perempuan, begitu juga dengan Jawa Timur saat ini yang juga sedangh angat-hangatnya dalam proses Pilkada. Kasus Pilkada Banten dangat menarik yang dapat dijadikan contoh keterkaitan perilaku pemilih dengan gender. Ratu Atut Chosiyah adalah gubernur wanita pertama di Indonesia yang pada November 2006 maju ke arena Pilkada berpasangan dengan Muhamad Masduki. Dari hasil perolehan suara ratu Atut-Muhamad Masduki memenangkan pemilihan dengan perolehan suara 40, 14 % suara. Pertanyaannya, apakah benar penyumbang suara terbanyak adalah permpuan? Dari hasil survei LSI ternyata tidak ada perbedaan yang snagat signifikan dari jawaban responden perempuan dan laki-laki tentang penilaian atas kriteria gubernur ideal menurut jenis kelamin. Sebanyak 14, 9 % responden laki-lai menganggap perlu gubernur perempuan sedangkan rsponden perempuan yang menganggap perlu sebanyak 27,1 %. Masih dari hail survai LSI di Bolaang Mangondow, Minahasa Selatan, Ambon dan Cinajur ditemukan jenis kelamin kandidiat belum menjadi pertimbangan penting. Keadaan ini menunjukkan ada faktor lain yang lebih berpengaruh dalam perolehan suara. Faktor “Signifikan Other” sepertinya menjadi hal yang sangat berpengaruh dalam kemenangan bebereapa perempuan di Pilkada seperti Banten dan Kebumen. Signifikan other yang dimaksud adalah Sang Ayah yang telah menjadi tokoh di daerah tersebut. Tidak sulit bagi calon kepala daerah untuk tenar dan mejadi tokoh jika Sang Ayah telah menjadi tokoh politik yang berpengaruh. Dan kondisi ini telah memberi peluang bagi Rustriningsih dan Ratu Atut untuk menang menjadi Kepala Daerah.

Terkait dengan isu perempuan ini, ada hal yang menarik pada kampanye Pilgub Jawa Tengah.

Kekuatan suara perempuan juga diperebutkan di ajang Pilgub jateng hari ini. Rustrinigsih mencalonkan diri sebagai Calon wakil Guberur berpasangan dengan Bibit Waluyo sedang PDIP sebagai kendaraan politiknya. Pasangan ini pun di beberapa kali kampanye tak keinggalan ”menyentuh” kaum perempuan untk mendongkrak suara dimana separuh dari Jumlah pemilih Jawa Tengah yang dperkirakan 26,15 juta adalah suara perempuan. Rustriningsih yang saat ini mejabat sebagai Bupti Kebumen adalah satu-satunya calon perempuan dan dianggap sebagai representse perempuan yang dipilih oleh rakyat karena pada saat pemilihan Bupati Bebumen Rustri memperoleh 77 persen suara dari jumlah pemilih, berarti Rustri menjadi pilihan.

Dari hasil Quickcount sore ini suara teringgi memang diraih oleh Bibit-Rustri yatitu mencapai 42 %. Pertanyaannya, apakah kemenangan (sementara) ini benar didukung faktor pengelolaan isu gender yang baik oleh pasangan Bibit-Rustri? Atau ada faktor Significant other yang dominan mempengaruhi kemenangan (sementara) tersebut?

To be continued………..

 

Iklan

Read Full Post »

Selamatkan Lingkungan

Setiap tanggal 5 Juni jutaan manusia merayakan hari bumi sejak 1972. merayakan Hari Lingkungan lebih berarti sembari memikirkan bagaimana kita menjaga bumi ini sebelum segala sumber daya habis untuk menunjang kelangsungan hidup manusia. Isu pemanasan global (Global Warming) sampai saat ini masih menjadi isu dan program favorit untuk diangkat. Akan tetapi setiap tahunnya masalah lingkungan masih menjadi persoalan pelik, mulai dari pembalakkan liar hutan lindung, rob dan erosi, sampah, banjir  dan lain sebagainya.

          Terjadinya bencana alam seperti tanah longsor, banjir erat kaitannya dengan menurunnya kualitas dan daya dukung lingkungan terhadap keseimbangan ekosistem. Saat ini degradasi hutan dan lahan sudah menjadi masalah global.Hal tersebut tercermin dari kondisi sumber daya hutan Indonesia yang semakin kritis.

Hutan Indonesia yang mencapai 120,35 juta ha, di tahun 2007 hampir 50 % (59,3 juta ha) mengalami kerusakan parah, dengan laju pengrusakan hutan mencapai 2,83 juta ha per tahun. Hingga saat ini tidak kurang 2,5 juta ha hutan ditebang setiap tahunnya secara legal maupun ilegal, kemudian berkurangnya luas hutan yang beralih fungsi atau dikonversi menjadi areal penggunaan lain serta semakin kritisnya kawasan Daerah Aliran Sungai (318 DAS di Indonesia kritis), akan menambah besaran angka degradasi hutan dan lahan.

          kerusakan hutan di Indonesia bukan hanya menjadi masalah warga Indonesia , melainkan juga warga dunia. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), mengatakan, Indonesia pantas malu karena telah menjadi Negara terbesar ke-3 di dunia sebagai penyumbang gas rumah kaca dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut (yang diubah menjadi permukiman atau hutan industri). Jika kita tidak bisa menyelamatkan mulai dari sekarang, 5 tahun lagi hutan di Sumatera akan habis, 10 tahun lagi hutan Kalimantan yang habis, 15 tahun lagi hutan di seluruh Indonesia tak tersisa. Di saat itu, anak-anak kita tak lagi bisa menghirup udara bersih.            Jika kita tidak secepatnya berhenti boros energi, bumi akan sepanas planet Mars. Tak akan ada satupun makhluk hidup yang bisa bertahan, termasuk anak-anak kita nanti.

             Tanggung jawab menjaga lingkungan tidak sekedar menjadi tanggung jawab individu tetapi juga tanggung jawab para pelaku bisnis atau perusahaan. Secara perundangan tanggung jawab ini telah di atur dalam UU PT No. 40 tahun 2007 pasal 74 yang menyatakan

1.                   Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.

2.                   Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.

3.                   Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

4.                   Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah.

         Lebih lanjut kewajiban menjaga lingkungan hidup bagi perusahaan juga diatur dalam UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penananamn Modal pasal 15 yang mewajibkan para penanam modal untuk melakukan tanggung jawab sosial.

          Hanya saja saat ini proses pelaksanaan tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan belum mendapatkan pengawasan dan sanksi yang jelas dari pemerintah. Selain masih banyak perusahaan yang enggan melaksanakan undang-undang di atas karena harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit, banyak yang memperdebatkan tolak ukur keberhasilan dan sarana evaluasi serta bentuk aktivitas tanggung jawab social tersebut walhasil permasalahan lingkungan akibat dominasi tujuan kepentingan perusahaan kerap menimbulkan kerugian besar bagi lingkungan.

 

          Peringatan Hari Lingkungan Tahun 2008 ini telah ditetapkan temanya oleh United Nations Environmental Programme (UNEP): “Co2 Kick The Habit, Toward a Low Carbon Economy” yang kemudian temanya disesuaikan dengan kondisi di Indonesia menjadi “Ubah Perilaku dan Cegah Pencemaran Lingkungan”. Upaya menyelamatkan lingkungan sudah sangat mendesak dan upaya ini memerlukan gerakan bersama. Gerakan yang dibutuhkan bukan gerakan instant tetapi lebih kepada attitude seluruh elemen bangsa untuk lebih mengedepankan penyelematan lingkungan. Maka mulailah dengan  berpikir . ini bukan sekedar masalah bagaimana perilaku orang lain tapi bagaimana perilaku kita untuk dapat menyelamatkan lingkungan.

Read Full Post »