Feeds:
Pos
Komentar

Imunitas Diri Sang Manusia

Permasalahan yang muncul  akan terus berkembang seiring berjalannya proses hidup dan kehidupan ini. Ia akan datang dan pergi menurut reaksi sang manusia terhadap sebuah peristiwa. Ia juga bisa datang dengan wujud yang sama dan juga bentuk yang berbeda. Banyak orang bijak yang berpetuah bahwa masalah itu datang untuk menyelesaikan kekurangan diri dan kemudian menyempurnakan kepribadian jika sang manusia bisa menyelesaikan dan memetik buah hikmah kehidupan yang kelak akan mematangkan kepribadian. Sebaliknya, ia akan terus ada bagaikan bayang-bayang yang sulit untuk pergi jika tak mampu diselesaikan. Artinya, sang manusia dituntut untuk bisa dan mampu mengatasi setiap kesulitan-kesulitan yang hadir di hadapan, lalu menjadikannya pelajaran yang akan mereparasi jiwa untuk lebih baik.

Lanjut Baca »

Lagu Lama

Jika kau hebat, hilangkan saja si miskin yg tak tak jera

atau komplek rusun yang bikin kumuh sudut  kota

sebab hanya habiskan uang negara

Tapi kau bukan apa-apa

lapangan kerja saja tak bisa kau cipta

apalagi rumah sewa yang berharga murah

koruptormu semakin merajalela, bahkan bisa melanglang buana

masuk penjara saja masih bisa berleha-leha

sedang kau tak bisa berkata apa-apa

Kau hanya bisa nyanyikan lagu lama saat musim pilkada tiba

“pilih aku yang terpercaya, untuk negeri yang makin tak berdaya”

ah, ternyata kau bukan siapa-siapa

Kau juga tak punya apa-apa

untuk negeri yang katanya sangat kau cinta.

Banyak pihak  meminta buku Penulis George Junus Aditjondro, Membongkar Gurita Cekas; dibalik kasus Bank Century ini untuk tidak diedarkan. Ternyata tidaklah  demikian yang terjadi di masayarakat, semakin antusias masayarakat untuk membeli dan membaca buku ini. Ini hal yang menarik tentunya, ada sebuah gejala sosial yang sedang terjadi di tengah masayarat. Bahwasanya  masyarakat saat ini sedang sangat membutuhkan informasi sebanyak mungkin tentang apa yang terjadi di negara merah putih dengan segala permasalahan hukum, kekuasaan dan ketidakadilan. Masyarakat mencari informasi di sisi lain untuk memenuhi kebutuhan akan keingintahuaannya atau  mencari “second opinion” tentang suatu hal untuk kemudian dikomparasikan dan ditimbang sebelum mengarah pada sebuah kesimpulan atau penilaian.

Hanya saja kondisi akan menjadi buruk jika kemudian data-data yang disajikan menjadi bola panas yang siap mengenai siapa saja tanpa bisa dihentikan dan dikendalikan apalagi dibuktikan secara hukum.  kerusuhan politik dan kerusuhan opini akan semakin liar dan menimbulkan konflik yang semrawut. Ditambah pula jika pihak yang menuntut tidak memberikan reaksi cerdas terhadap terbitnya buku ini. Konon katanya, negara ini sengaja dibentuk sebagai negara hukum. Artinya jika memang buku ini kemudian harus dihentikan pereadarannya itu harus sesuai dengan proses atau prosedur yang berlaku. Jika melihat kasus 5 buku yang baru-baru ini dilarang oleh kejaksaan agung, semuanya sudah melalui proses oleh tim penyeleksi (clearing house) sejak Mei 2009. Buku-buku tersebut dilarang karena melanggar ketertiban umum. Substansi buku dinilai tidak sesuai dengan aturan. Namun, ketertiban umum yang mana yang dilanggar buku-buku itu,  tidak menjelaskan. (Kompas.com).

Jika kemudian buku ini mendadak dicekal juga, maka bisa saja semakin menimbulkan kecurigaan dan ketidakpercayan masyarakat terhadap pemerintahan SBY, bahwa ada kepentingan terselubung di balik pemberhentian peredaran buku Membongkar Gurita Cikeas tentu saja untuk penyelematan kekuasaan. Saya yakin SBY tak mau ini.

Membongkar Gurita Cikeas.

Kancah dunia perpolitikan kembali dihebohkan dengan teritnya buku “Membongkar Gurita Cikeas; di balik kasus century” yang ditulis oleh George Junus Aditjondro, Guru Besar Sosiology Korupsi New Castle University Australia yang pernah ‘menelanjangi’ KKN antara Presiden Suharto dengan Habibie lewat buku “Dari Soeharto ke Habibie : guru kencing berdiri, murid kencing berlari : kedua puncak korupsi, kolusi, dan nepotisme rezim Orde Baru” (Pijar Indonesia, 1998), dan “Korupsi Kepresidenan Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga: Istana, Tangsi, dan Partai Penguasa” (Mei, 2006). (blog pancallok).

tentu saja kontroversi dari pihak-pihak terutama yang telibat seperti yang tertulis dalam buku ini membuat buku menjadi buah bibir. di beberapa diskusi di media George mengatakan akan melakukan revisi terhadap data yang terulis jika terbukti benar terdapat sebuah kekeliruan, dan revisi tersebut akan di tulis di edisi revisi, buku kedua.

saya belum baca langsung daru buku brwarna putih ini, tapi sedikit info dari tetangga cukup untuk sementara ini

———————————————————-

Sekilas Seputar Buku Membongkar Gurita Ciekas;

di balik Kasus Bank Century

Sumber : Blog Suara Mustika


“Apakah penyertaan modal sementara yang berjumlah Rp 6,7 triliun itu ada yang bocor atau tidak sesuai dengan peruntukannya? Bahkan berkembang pula desas-desus,rumor, atau tegasnya fitnah, yang mengatakan bahwa sebagian dana itu dirancang untuk dialirkan ke dana kampanye Partai Demokrat dan Capres SBY; fitnah yang sungguh kejam dan sangat menyakitkan….

Sejauh mana para pengelola Bank Century yang melakukan tindakan pidana diproses secara hukum, termasuk bagaimana akhirnya dana penyertaan modal sementara itu dapat kembali ke negara?”

Begitulah sekelumit pertanyaan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidatonya hari Senin malam, 23 November 2009, menanggapi rekomendasi Tim 8 yang telah dibentuk oleh Presiden sendiri, untuk mengatasi krisis kepercayaan yang meledak di tanah air, setelah dua orang pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) – Bibit S Ryanto dan Chandra M Hamzah – ditetapkan sebagai tersangka kasus pencekalan dan penyalahgunaan wewenang, hari Selasa, 15 September, dan ditahan oleh Mabes Polri, hari Kamis, 29 Oktober 2009.

Barangkali, tanpa disadari oleh SBY sendiri, pernyataannya yang begitu defensif dalam menangkal adanya kaitan antara konflik KPK versus Polri dengan skandal Bank Century, bagaikan membuka kotak Pandora yang sebelumnya agak tertutup oleh drama yang dalam bahasa awam menjadi populer dengan julukan drama cicak melawan buaya.

Memang, drama itu, yang begitu menyedot perhatian publik kepada tokoh Anggodo Widjojo, yang dijuluki “calon Kapolri” atau “Kapolri baru”, cukup sukses mengalihkan perhatian publik dari skandal Bank Century, bank gagal yang mendapat suntikan dana sebesar Rp 6,7 trilyun dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), jauh melebihi Rp 1,3 trilyun yang disetujui DPR‐RI.

Selain merupakan tabir asap alias pengalih isu, penahanan Bibit dan Chandra oleh Mabes Polri dapat ditafsirkan sebagai usaha mencegah KPK membongkar skandal Bank Century itu, bekerjasama dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Soalnya, investigasi kasus Bank Century itu sudah didorong KPK (Batam Pos, 31 Agust 2009). Sedangkan BPK juga sedang meneliti pengikutsertaan dana publik di bank itu, atas permintaan DPR‐RI pra‐Pemilu 2009.

Dari berbagai pemberitaan di media massa dan internet, nama dua orang nasabah terbesar Bank Century telah muncul ke permukaan, yakni Hartati Mudaya, pemimpin kelompok CCM (Central Cipta Mudaya) dan Boedi Sampoerna, salah seorang penerus keluarga Sampoerna, yang menyimpan trilyunan rupiah di bank itu sejak 1998.

Sebelum Bank Century diambilalih oleh LPS, Boedi Sampoerna, seorang cucu pendiri pabrik rokok PT HM Sampoerna, Liem Seng Thee, masih memiliki simpanan sebesar Rp Rp 1.895 milyar di bulan November 2008, sedangkan simpanan Hartati Murdaya sekitar Rp 321 milyar.

Keduanya sama‐sama penyumbang logistik SBY dalam Pemilu lalu. Beberapa depositan kelas kakap lainnya adalah PTPN Jambi, Jamsostek, dan PT Sinar Mas. Boedi Sampoerna sendiri, masih sempat menyelamatkan sebagian depositonya senilai US$ 18 juta, berkat bantuan surat‐surat rekomendasi Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri waktu itu, Komjen (Pol) Susno Duadji, tanggal 7 dan 17 April 2009 (Rusly 2009: Haque, 2009; Inilah.com, 25 Febr 2009; Antara News, 10 Ag. 2009; Vivanews.com, 14 Sept. 2009; Forum Keadilan, 29 Nov. 2009: 14).

BANTUAN GRUP SAMPOERNA UNTUK HARIAN JURNAS

Apa relevansi informasi ini dengan keluarga Cikeas?

Boedi Sampoerna ditengarai menjadi “salah seorang penyokong SBY, termasuk dengan menerbitkan sebuah koran” (Rusly 2009: 48).

Ada juga yang mengatakan” Sampoerna sejak beberapa tahun lalu mendanai penerbitan salah satu koran nasional (Jurnas/Jurnal Nasional) yang menjadi corong politik Partai SBY” (Haque 2009).

Lanjut Baca »

Undangan Pernikahanku

Biar semua pada siap-siap jadi saya kasih kabar jauh-jauh hari

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan memohon Rahmat Allah SWT untuk keberkahan disetiap prosesnya, kami bermaksud melaksanakan sunnah Rasul dengan melangsungkan pernikahan:

Aprina Santeka dengan Muhith Harahap

yang insyaallah akan diselenggarakan pada :
Akad : Tanggal 29 Januari 2010 pukul 14.00 WIB
Resepsi : Tanggal 30-31 Januari pukul 09.00-12.00 WIB

Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami jika bapak/ibu/saudara/saudari dapat hadir dan memberikan doa untuk keberkahan pernikahan kami.

Wassalamualaikum Wr. Wb

Catatan : Ini adalah undangan resmi untuk semua kerabat, sahabat dan handai tolan.

Sekedarnya SAja

Temen-temenku bilang sekarang aku kena virus romantis karena kegandrungan nulis puisi…aku berpikir..masa iya sih kl orang yg nulis puisi selalu dalam kriteria romantis? tapi jika begitu tak apalah aku di sebut romantis tapi bukan romantias melankolis….he..he. Beberapa tulisan untuk blog sudah kusiapkan hanya saja belum diberi sentuhan terkahir alias finishing touch.

Akhir-akhir ini aku kegandrungan nulis puisi,banyak mood buat bikin puisi sederhana. sepertinya karena beberapa bulan terakhir sosok WS rendra dan taufik ismail benar-benar lagi menjelma dalam pikirian, terinspirasi.

termasuk beberapa hari lalu kubuat puisi sederhana untuk seorang perempuan berhati mulia :

Aku lari dari kerinduan seperti ini

Bergelora, hebat membuncah.

Sekedar tautan doa lirih yang menenangkan.

Pada  Ibu , jauh tak terpandang. Tak tersentuh.

Warna Rasa

biar kulukis sendiri warna rasaku

tak mudah..tapi bisa