Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2012

Status sebagai aktivis bagi sebagian orang bisa menjadi sesuatu yg prestisius serta membanggakan apalagi aktivis tersebut menorehkan banyak prestasi yang bisa semakin mengharumkan namanya.

Karenanya tidak sedikit aktivis yang terus melanjutkan karir aktivisnya meski sudah tidak lagi menjadi mahasiswa. Memilih wadah-wadah ekstraparlementer yang sesuai dengan minat dan spesialisasi.

Tentu saja  para pegiat ini bukan berasal dari kaum adam semata tapi banyak juga para aktivis yang bergender perempuan. Para perempuan ini bahkan bisa menjadi pucuk-pucuk pimpinan dilembaga masing-masing bahkan eksis di luar sana.

Tapi, bagi para aktivis perempuan mereka tidak hanya  bergerak stagnan pada satu level “single” seperti ketika mereka masih menjadi mahasiswa. Bahwa suatu masa mereka akan berubah menjadi ‘double” dan juga berakitvitas sebagai ibu rumah tangga.

Tapi permasalahan yang ternyata muncul dikalangan aktivis yang berhenti aktif dan menjadi ibu rumah tangga adalah mereka malu ketika status mereka berubah total dari aktivis menjadi ibu rumah tangga murni. Ada pertentangan psikologi ketika banyak saudara dan  sahabat yang sedikit sinis ketika mendengar jawaban apa pekerjaan setelah menikah. Kondisi inilah yang kerap banyak membuat para aktivis perempuan akhirnya tetap memilih bekerja karena malu. Malu karena dulu dia adalah aktivis terkenal tapi sekarang hanya menjadi biu rumah tangga. Seperti ada stiga yang tertanam entah memang tercipta di masayarakat luas atau hanya dikalangan aktivis saja bahwa status “ibu rumah tangga” adalah status yang tidak elit dan tidak bergengsi.

(lebih…)

Read Full Post »