Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2009

Happy Idul Fitri

idul fitri

Selamat Idul Fitri kawan-kawan semua,

mohon maaf jika ada hal  yg kurang berkenan dalam dunia blog kita.

semoga jalinan silaturahmi tetap bisa terjaga dan tentunya juga semoga kita tetap bisa menjaga semangat ramadhan di 11 bulan mendatang.

Iklan

Read Full Post »

MUDIK yuuuk

Mudik ceria di setiap lebaran pasti jadi moment yg ditunggu-tungu oleh kebanyakan orang. Kembali ke kampung halaman tempat dibesarkan, menghabiskan rindu dengan orang tua dan keluarga tercinta meski tak lama. Tentu saja, oleh-oleh dari pulau seberang tak lupa dibawa sekedar periang hati bagi orang-orang yang lama ditinggal selama ini.

Itu pun kurasakan setiap menjelang lebaran. Biasannya ramadhan adalah waktu puncak kerinduan pada kampung halaman tapi aroma mudik yg semakin dekat membuat tetap semangat belajar dan bekerja.nostalgia ke tempat-tempat favorit jaman bahela pasti tak terlewatkan. Nah, bagi orang-orang Manna,Bengkulu Selatan  pasti tak pernah lupa wisata utama  kita :

ufuk senja

Pantai Pasar Bawah

anak muara

Anak Muara Kedurang

Ingat pesan lama : Amau balik kitau betunggal, amaun jauh kitau seghinduan.

Read Full Post »

Gerhana Derma (Celathu Butet)

Dari dulu aku sangat suka kolom celathu butet (suaramerdeka.com). tulisan yg sangat menggelitik, kritis tanpa dikte tapi mengena.

MASIH ingat gerhana matahari total (GMT) yang terjadi tahun 80-an di Indonesia?
Untuk mereka yang saat itu belum lahir, perlu dikisahkan; peristiwa alam tertutupinya matahari oleh bulan sehingga menyerupai cincin berkilauan itu, diperlakukan dengan sangat heboh.

Pemerintah Orde Baru bahkan turun tangan, ikut mengatur bagaimana rakyat merespons  gejala alam itu.  GMT yang semestinya biasa, dibayangkan menjadi luar biasa dan menakutkan. Rakyat ditakut-takuti. Diimbau supaya tidak menyaksikan gerhana.

’’Jika melihat langsung mata bisa buta,’’ begitu pemerintah kasih peringatan. Malah melalui TVRI, satu-satunya siaran resmi saat itu, pemerintah berkampanye dengan menggambarkan cara dan tindakan ’’terbaik’’ saat GMT tiba, yaitu sembunyi di kolong tempat tidur. Walah walah…

’’Hua ha ha, lucu sekali ya. Hanya untuk melihat gejala alam saja, pemerintah ikutan mengatur. Kok gitu sih?’’ tanya Jeng Genit yang ketika GMT statusnya masih umpluk, alias belum lahir.

’’Dan sialnya, banyak orang yang patuh. Tidak berani melihat cincin raksasa mengkilat di angkasa. Sayang sekali, padahal pada detik GMT itu pemandangannya indah banget. Hari yang semula terang benderang, lalu meredup perlahan-lahan, gelap total kayak malam hari, dan di langit terlihat matahari tertutupi rembulan.

Yang terlihat kemudian adalah bulatan kayak cincin menyala di tepiannya. Wuaah..wah, wah, jan elok tenan,’’ kenang Mas Celathu dengan agak mendramatisasi, sehingga Jeng Genit semakin gemas karena selama hidupnya dia tak akan sempat menyaksikan keajaiban alam yang berlangsung seratus tahun sekali itu.

’’Wuiihhh, bagus sekali ya? Tapi kenapa pemerintah melarang rakyat melihat keindahan dan keajaiban itu?’’

’’Soalnya, dulu itu pemerintah hobinya bikin larangan. Ibaratnya, sehari saja tidak bikin larangan, pejabatnya langsung pegel linu dan gatal-gatal.. he he he..’’
’’Lha kok Bapak bisa melihat gerhana itu. Hayooo, pasti bandel ya? Nggak patuh sama pemerintah. Bukannya rakyat itu wajib patuh kepada pemerintahnya?’’

(lebih…)

Read Full Post »