Denis McQuail dalam bukunya McQuail’s Mas Communication Theory, mengatakan bahwa media adalah jendela yang memungkinkan kita untuk melihat fenomena yang terjadi melebihi lingkungan dekat kita. Media mampu menyajikan berbagai macam peristiwa kepada audiensnya. Secara gamblang seseorang bisa mengakses informasi dan berbagai macam peristiwa yang up to date dari berbagai penjuru dunia, melewati dimensi ruang dan waktu
Jika kita memperhatikan isi media yang ditampilkan ke publik, tidak sedikit tayangan-tayangan yang berbau “kekerasan” menjadi konsumsi khalayak. Tayangan yang berbau kekerasan saat ini bahkan menjadi tayangan yang mendominasi, mulai dari segmen orang dewasa sampai anak-anak. Sinetron-sinetron di televisi kerap mempertontonkan adegan perkelahian, tamparan dan cacian hinaan dalam setiap segmennya. Dalam film anak-anak pun juga tak luput dari adegan-adegan tersebut.
Menjadi permasalahan adalah ketika tayangan-tayangan tersebut dianggap realita sosial di tengah masyarakat dan menjadikan kekerasan adalah sesuatu yang lumrah dan biasa dilakukan. Di Bandung, seorang anak SD kelas II meninggal dunia setelah bermain dengan teman sekelasnya. Di Balikpapan seorang anak kelas II SD mengalami patah tangan. Dan masih banyak lagi kasus serupa di daerah lain. Setelah di selidiki ternyata sang bocah senang menonton tayangan Smackdown di televisi.
Kondisi ini kemudian menarik perhatian banyak kalangan karena dianggap menganggu perkembangan psikologi anak-anak dan tak layak dikonsumsi anak-anak. Banyak pihak yang menuntut agar tayangan smackdown dihapuskan, selain itu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) juga melarang penayangan dua film anak-anak yaitu Detektif Conan dan Naruto. Meski dalam bentuk animasi, film anak-anak tersebut kerap menampilkan adegan-adegan perkelahian serta pembunuhan.
Kekerasan di media dapat memicu terjadinya kekerasan sebenarnya di dunia nyata, Menurut Haryatmoko, penulis buku komunikasi, kekerasan seperti ini disebut kekerasan fiktif. Memang ada rekayasa teknologi di dalam tayangan kekerasan. Akan tetapi, dampaknya terhadap dimensi psikis pemirsa sangatlah besar, bahkan lebih besar daripada pertandingan tinju ataupun karate yang memang mengandung kekerasaan riil.
Meskipun fiksi tidak sama dengan realita, tetapi fiksi yang telah dikemas oleh media bisa menimbulkan anggapan-anggapan realita dan menyuguhkan ide-ide baru yang sebelumnya tidak terpikirkan di dalam realita kehidupan sosial. Menjadi ironi kemudian bagaimana sesorang memperoleh ide membunuh karena ia gemar menonton tayangan kekekerasan di media.
Apalagi dalam konteks media elektronik, adegan kekerasan dibungkus secara dramatis sehingga menimbulkan sensasi kenikmtaan tersendiri ketika menonton. Dalam kondisi ini efek media kepada penonton akan sangat mudah terjadi.
Secara sadar penonton bisa membedakan antara kondisi riil dan fiktif, akan tetapi jika penonton terus menerus mendapat terpaan media berupa kekerasan maka kondisi ini bisa melahirkan perilaku desensitisasi, yaitu penumpulan kepekaan terhadap kekerasan. Penonton mulai teridentifikasi sesuai dengan tuntutan media, mulai dari cara berpikir (persepsi), kognitif dan prilaku dalam menilai kekerasan itu sendiri. Efek lebih lanjut, situasi ini akan menimbulkan persepsi bahwa kekerasan bukan lagi kekerasan itu sendiri tetapi sesuatu hal yang biasa dilakukan atau telah menjadi social reality.
Media seakan melegitimasi kekerasan yang terjadi dan bisa menimbulkan perilaku agresif bagi orang-orang yang menontonnya. Mengacu pada Teori kultivasi yang dikatakan McQuail dan Windahl bahwa televisi tidak hanya disebut sebagai jendela atau refleksi kejadian sehari-hari disekitar kita, tetapi dunia itu sendiri.
Hal ini berarti perilaku kekerasan yang diperlihatkan di televisi merupakan refleksi kejadian sebenarnya disekitar kita. Jika kita menonton acara seperti Buser, Patroli, Sidik, Sergap dan lain-lain, kita bisa melihat bagaimana tayangan tersebut memvisualisasikan dengan baik perilaku kejahatan yang terjadi di masyarakat. Dalam prespektif kultivasi adegan yang terjadi dalam acara-acara itu menggambarkan dunia kita yang sebenarnya. Bahwa di Indonesia kejahatan itu sudah demikian luas dan mewabah serta menjadi hal yang biasa.
Seperti beberapa waktu yang lalu, peristiwa Koja, kerusuhan di Pabrik PT Drydocks World Graha Batam, kerusuhan demonstrasi terkait bank century di beberapa daerah dan banyak peristiwa rusuh lainnya, seakan menjadi trend tayangan hampir di semua media bahkan menjadi headline pemberitaan . Melalui tayangan tersebut tampak bagaimana heroisme pembelaan terhadap apa yang dianggap benar meski berbuntut kerugian baik fisik maupun materi. Perusakan fasilitas umum oleh massa, pembakaran asset pabrik oleh karyawan serta kekerasan fisik yang dilakukan aparat keamanaan dalam peristiwa tersebut seakan menjadi budaya baru yang terexposes dengan jelas oleh media, ditayangkan oleh media-media secara bersamaan dan dalam kurun waktu tertentu.
Gempuran tayangan-tayangan tersebut pada akhirnya, bisa membawa penonton pada pola-pola baru dalam interakasi sosialnya tepat seperti apa yang dilihatnya di media. Kekerasan seakan menjadi salah satu solusi penyelesaian masalah. Sebagian orang akhirnya bisa beranggapan bahwa kompromi dan diskusi dalam penyelesaian konflik tidak mampu membawa keadaan menjadi lebih baik sehingga alternatif terbaik adalah dengan kerusuhan, bentrokan serta tawuran.
Pers atau media merupakan bagian penting dalam proses sosial saat ini sebagaimana perannya sebagai alat informasi, hiburan, social control dan sarana pendidikan. Terkait efek dari terpaan media kepada penonton adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Akan tetapi, dari sudut pandang personal penonton, hal tersebut dapat kita sikapi dengan bijak. Dalam hal ini sangat diperlukan kekritisan penonton dalam mengkonsumsi tayangan media.
Pembatasan dan penyaringan informasi yang diterima akan membantu kita untuk tidak mudah menyerap begitu saja berita yang disajikan oleh media sehingga akan lebih memberi manfaat dibanding mudharat. Pemantauan isi tayangan untuk anak-anak juga hal yang tidak boleh diabaikan mengingat pada usia dini adalah masa-masa identifikasi diri, sehingga proses identifikasi diri yang buruk yang bisa didapat dari lingkungan sekitar, yaitu media, bisa diminimalisir sejak dini.
Tentu saja hal ini bukan sekedar menjadi pekerjaan personal atau orang tua, tapi juga menjadi pekerjaan semua pihak mulai dari insan pers, media, pemerintah dan masyarakat itu sendiri.
Aprina Santeka, S.Sos
Aktivis Komunikasi pada Communacare Institute, tinggal di Banjarmasin
Pernah dimuat di radar banjarmasin









harus selektif. Banyak pihak seharusnya selalu berbenah
P E R T A M A X . . . . .
media massa memang memiliki kekuatan sendiri yang bisa mempengaruhi perilaku masyarakat.
Blogwalking siang-siang ah..
http://www.anekakita.com
Anekakita.com Tempat Belanja Termurah dan Terpercaya, Toko Pakaian dan Aksesoris Online
klo di pikir2 seh ia,..
tp klo di pikir lagi jd bimbang,..
Silakan kunjungi blog sehat di http://www.wisnuvegetarianorganic.wordpress.com/
Kangen euy dengan warnanya
semuanya pasti ada sisi baiknya dan sisi buruknya. . .
tinggal kita yang menanggapi aja. . .
mau di tanggapi baik ya mesti baik dan sebaliknya. .
kunjungan dan komentar balik ya gan
salam perkenalan dari
http://diketik.wordpress.com
sekalian tukaran link ya…
semoga semuanya sahabat blogger semakin eksis dan berjaya.
hai..salam persahabatan yaaa…thanx