Dari dulu aku sangat suka kolom celathu butet (suaramerdeka.com). tulisan yg sangat menggelitik, kritis tanpa dikte tapi mengena.
MASIH ingat gerhana matahari total (GMT) yang terjadi tahun 80-an di Indonesia?
Untuk mereka yang saat itu belum lahir, perlu dikisahkan; peristiwa alam tertutupinya matahari oleh bulan sehingga menyerupai cincin berkilauan itu, diperlakukan dengan sangat heboh.
Pemerintah Orde Baru bahkan turun tangan, ikut mengatur bagaimana rakyat merespons gejala alam itu. GMT yang semestinya biasa, dibayangkan menjadi luar biasa dan menakutkan. Rakyat ditakut-takuti. Diimbau supaya tidak menyaksikan gerhana.
’’Jika melihat langsung mata bisa buta,’’ begitu pemerintah kasih peringatan. Malah melalui TVRI, satu-satunya siaran resmi saat itu, pemerintah berkampanye dengan menggambarkan cara dan tindakan ’’terbaik’’ saat GMT tiba, yaitu sembunyi di kolong tempat tidur. Walah walah…
’’Hua ha ha, lucu sekali ya. Hanya untuk melihat gejala alam saja, pemerintah ikutan mengatur. Kok gitu sih?’’ tanya Jeng Genit yang ketika GMT statusnya masih umpluk, alias belum lahir.
’’Dan sialnya, banyak orang yang patuh. Tidak berani melihat cincin raksasa mengkilat di angkasa. Sayang sekali, padahal pada detik GMT itu pemandangannya indah banget. Hari yang semula terang benderang, lalu meredup perlahan-lahan, gelap total kayak malam hari, dan di langit terlihat matahari tertutupi rembulan.
Yang terlihat kemudian adalah bulatan kayak cincin menyala di tepiannya. Wuaah..wah, wah, jan elok tenan,’’ kenang Mas Celathu dengan agak mendramatisasi, sehingga Jeng Genit semakin gemas karena selama hidupnya dia tak akan sempat menyaksikan keajaiban alam yang berlangsung seratus tahun sekali itu.
’’Wuiihhh, bagus sekali ya? Tapi kenapa pemerintah melarang rakyat melihat keindahan dan keajaiban itu?’’
’’Soalnya, dulu itu pemerintah hobinya bikin larangan. Ibaratnya, sehari saja tidak bikin larangan, pejabatnya langsung pegel linu dan gatal-gatal.. he he he..’’
’’Lha kok Bapak bisa melihat gerhana itu. Hayooo, pasti bandel ya? Nggak patuh sama pemerintah. Bukannya rakyat itu wajib patuh kepada pemerintahnya?’’
Melahirkan Goyangan
Mendapat sodokan pertanyaan tak terduga ini, Mas Celathu terpana. Bingung harus menjawab apa. Tapi, bukan Celathu namanya jika tak bisa ngeles. Dengan diplomatis dia bilang,’’ Lho, imbauan pemerintah tetap kudengarkan, tapi tidak kulaksanakan. Soalnya nggak masuk akal je. Lha wong saat itu turis asing berbondong-bondong ke Indonesia ingin melihat keajaiban alam itu, kok malah rakyatnya disuruh sembunyi.’’
Karena itulah, ketika pekan lalu gempa lagi-lagi menggoyang Pulau Jawa, Mas Celathu langsung teringat analisis geolog yang sejak beberapa tahun lalu memprediksinya. Kawasan Indonesia memang rawan digoyang gempa, karena konon jauh di bawah sana ada lempengan-lempengan bumi yang selalu bergeser, dan pada saatnya pergerakan lempengan itu akan saling berbenturan dan melahirkan goyangan gempa.
Melahirkan Keindahan
Mas Celathu mendengar banyak jagoan klenik mempertalikan gempa Tasikmalaya dengan situasi politik. Konon, bencana ini pertanda suramnya negeri ini. Dulu, lima tahun lalu, begitu pemimpin terpilih dilantik langsung disambut gempa dan tsunami Aceh, dan selanjutnya dari tahun ke tahun bencana seperti mbanyu mili, datang bergiliran.
Sekarang, dilantik pun belum, kok sudah didahului goyangan gempa. Apakah bukan berarti alam kasih isyarat terhadap masa depan yang membahayakan?
Yang semestinya diteriakkan, jika bencana datang ya harus segera menolong dan membangun harapan. Jangan biarkan korban tersiksa penderitaan. Beri bantuan praktis pada masa darurat. Lalu dimotivasi supaya pulih semangatnya seperti sedia kala.
Menurut Mas Celathu, kesediaan memberi derma, sumbangan atau pun zakat, hendaknya menjadi urusan orang per orang. Melakukan tindakan mulia seperti itu mungkin akan melahirkan keindahan tersendiri bagi pelakunya. Mau berderma atau tidak, bukan negara yang mengaturnya. Tapi kedalaman hati nurani setiap manusia. (65)









& Komentar
September 10, 2009 pukul 4:17 am
Aku juga ngalami… jadi sambil nunggu shalat gerhana matahari di masjid desa… bolak-balik dari rumah Pak Kepala Desa (melihat TVRI) – Masjid (untuk ikut shalat ).
Ini mengingatkan aku yang sempat ikut-ikutan ke Tanung Kodok melihat persiapan yang akan digunakan para ahli meliput kejadian alam yang langkah itu…
Thanks
September 10, 2009 pukul 11:47 am
hhhuuuaaa…
Atidak mengalami…
Aq bLm lahir…
September 11, 2009 pukul 3:40 am
cukup dibayangkan saja mas
Oktober 3, 2009 pukul 10:10 am
Yah begitulah pas orde, btw singgahlah ke blog saye